Gudang mengirim 900 dari 1.000 unit pada kesempatan pertama. Angkanya terlihat baik, tetapi bila 100 unit yang tidak terkirim adalah satu komponen wajib, pelanggan tetap tidak bisa menggunakan paketnya. Fill rate membantu melihat seberapa banyak permintaan yang langsung terpenuhi. Untuk memakainya dalam keputusan stok, tentukan dulu apakah yang dihitung adalah unit, baris produk, atau pesanan lengkap.
Tiga Cara Menghitung Fill Rate
Contoh ilustratif: pesanan A meminta 90 unit komponen X dan 10 unit komponen Y. Gudang memenuhi seluruh X tetapi tidak punya Y. Pesanan B meminta 20 unit X dan semuanya terpenuhi. Gunakan kesempatan pemenuhan pertama sebagai titik ukur.
- Unit fill rate: unit terpenuhi ÷ unit dipesan × 100%. Hasilnya 110 ÷ 120 = 91,7%. Ukur per SKU atau kelompok yang satuannya layak digabung. Jangan mencampur karton dan unit tanpa konversi.
- Line fill rate: baris yang terpenuhi seluruhnya ÷ semua baris pesanan × 100%. Dua dari tiga baris lengkap, jadi 66,7%. Baris yang terpenuhi sebagian tidak lulus pada definisi ini.
- Order fill rate: pesanan yang terpenuhi seluruhnya ÷ semua pesanan × 100%. Hanya B yang lengkap, jadi 50%.
Ketiganya sah untuk pertanyaan berbeda. Gunakan basis unit untuk menilai kekurangan kuantitas, basis baris untuk menemukan SKU yang sering gagal, dan basis pesanan jika pelanggan menilai satu pesanan sebagai paket. Nama metrik di dashboard perlu menyebut basis dan batas pengukuran agar tiga angka ini tidak dibandingkan seolah setara.
Tetapkan Kapan Permintaan Dianggap Terpenuhi
Untuk evaluasi persediaan, pisahkan pemenuhan dari stok pada alokasi pertama dan pemenuhan setelah pembelian ulang. Jika 10 unit Y datang esok dan pesanan akhirnya lengkap, catat itu sebagai penyelesaian backorder. Riwayat pemenuhan pertama tetap menunjukkan kekurangan. Jika operasi memilih titik ukur berupa pengiriman pertama, tuliskan definisi itu karena selisih picking dan keputusan menahan truk dapat mengubah hasilnya.
Gunakan kuantitas yang diminta, kuantitas tersedia untuk dialokasikan, dan kuantitas yang benar-benar terpenuhi. Stok fisik yang sedang dikarantina atau sudah dicadangkan untuk pelanggan lain tidak otomatis tersedia. Untuk substitusi, simpan SKU asli, pengganti, dan bukti persetujuan pelanggan. Laporkan substitusi terpisah bila tujuan analisis adalah mengetahui apakah SKU asli cukup.
Ubah Temuan Menjadi Keputusan Persediaan
Ambil daftar baris gagal selama satu siklus pemesanan ulang. Kelompokkan alasannya: pemasok terlambat, stok fisik tidak cocok dengan ERP, barang tertahan QC, atau alokasi ke pesanan lain. Menambah cadangan tidak menyelesaikan kesalahan stok fisik; sebaliknya, memperbaiki pencatatan tidak menutup lead time pemasok yang berubah. Untuk masalah variasi pasokan, lanjutkan dengan uji perhitungan safety stock sebelum mengubah parameter semua SKU.
Rujukan konsep: APQC, Order Line Fill Rate. Definisi kesempatan pertama dan contoh hitung di artikel ini adalah pilihan operasional untuk menilai pemenuhan stok, bukan tolok ukur industri.
Jika selisih berulang lintas lokasi, lihat pemetaan sistem logistik untuk menyelaraskan data gudang dan pemenuhan.
Kelengkapan pada alokasi pertama belum menjelaskan apakah pelanggan menerima barang tepat waktu. Bandingkan dengan OTIF pengiriman. Jika stok cukup tetapi pesanan masih tertahan, ukur waktu dari pemesanan hingga penerimaan untuk mencari tahap yang lambat.
Jika laporan gudang belum membedakan stok fisik, stok tersedia, dan kuantitas yang dialokasikan, bahas desain pengukuran fill rate dengan Layana.ID. Siapkan tiga baris pesanan yang gagal dan riwayat pergerakan stoknya.
