Memilih kanal penjualan online memengaruhi lebih dari sekadar tempat pelanggan membeli produk. Keputusan ini juga menentukan biaya pemasaran, kendali atas pengalaman pelanggan, serta cara perusahaan mengelola pesanan dan stok.
Marketplace menawarkan akses ke lingkungan belanja yang sudah digunakan banyak orang. Website e-commerce memberikan ruang lebih luas untuk membangun pengalaman belanja sesuai kebutuhan bisnis. Keduanya memiliki kelebihan, tetapi manfaatnya bergantung pada produk, target pelanggan, dan kesiapan operasional perusahaan.
Sebelum memilih, pertimbangkan beberapa hal berikut.
Apa Perbedaan Marketplace dan Website E-commerce?
Marketplace adalah platform yang mempertemukan banyak penjual dengan pembeli dalam satu tempat. Penjual menggunakan fasilitas transaksi dan mengikuti aturan platform tersebut.
Website e-commerce adalah toko online yang dikelola di bawah brand sendiri. Perusahaan memiliki ruang lebih luas untuk mengatur tampilan, katalog, dan perjalanan belanja pelanggan, sesuai kemampuan platform yang digunakan.
Secara teknis, marketplace juga termasuk e-commerce. Dalam artikel ini, perbandingannya adalah antara berjualan melalui platform pihak ketiga dan mengoperasikan toko online milik brand sendiri. Referensi: Zoho Commerce.
1. Dari Mana Pelanggan Akan Datang?
Marketplace memiliki pengunjung yang sudah datang untuk mencari produk. Namun, membuka toko tidak otomatis membuat produk terlihat atau terjual. Penjual tetap perlu mengelola katalog, reputasi toko, harga, dan promosi.
Pada website sendiri, perusahaan perlu membangun sumber kunjungan melalui pencarian, iklan, konten, atau pelanggan yang sudah mengenal brand. Perbedaan tanggung jawab mendatangkan pengunjung ini menjadi salah satu pertimbangan utama dalam memilih kanal. Referensi: Shopify.
Pertanyaan yang perlu dijawab adalah: apakah bisnis sudah memiliki cara yang realistis untuk mendatangkan calon pembeli?
Jika belum, marketplace dapat menjadi kanal awal untuk menguji respons pasar. Jika sudah memiliki pelanggan aktif atau permintaan langsung, website dapat dievaluasi sebagai kanal tambahan.
2. Hitung Biaya Total, Bukan Hanya Biaya Pembuatan
Membandingkan biaya membuka toko marketplace dengan biaya membangun website saja belum cukup. Keduanya perlu dinilai berdasarkan biaya operasional dan kontribusi setiap pesanan.
Untuk marketplace, periksa biaya platform yang berlaku, iklan, kontribusi promosi, serta biaya layanan yang digunakan. Untuk website, perhitungkan pengembangan atau langganan platform, pemrosesan pembayaran, pemasaran, pemeliharaan, dan dukungan operasional. Besarnya biaya bergantung pada penyedia dan konfigurasi layanan. Referensi: Shopify.
Gunakan kerangka perhitungan berikut:
Kontribusi per pesanan = pendapatan bersih − harga pokok − biaya kanal dan pembayaran − biaya promosi yang dialokasikan − biaya pemenuhan pesanan.
Pastikan potongan tidak dihitung dua kali apabila sudah tercakup dalam pendapatan bersih. Setelah itu, bandingkan total kontribusi dengan biaya tetap masing-masing kanal.
Website tanpa komisi marketplace belum tentu lebih murah jika biaya mendapatkan pelanggan tinggi. Sebaliknya, penjualan marketplace yang ramai belum tentu menghasilkan margin yang sehat.
3. Seberapa Penting Kendali atas Pengalaman Belanja?
Sebagian produk cukup dijelaskan melalui foto, spesifikasi, harga, dan ulasan. Produk lain memerlukan informasi lebih lengkap sebelum pembeli mengambil keputusan.
Website dapat menjadi pilihan yang relevan ketika bisnis membutuhkan:
- Katalog berdasarkan industri atau kebutuhan pelanggan.
- Penjelasan teknis dan dokumen produk.
- Pilihan konfigurasi atau paket.
- Permintaan penawaran.
- Alur pemesanan khusus untuk pelanggan bisnis.
Kebutuhan tersebut harus diperiksa terhadap kemampuan platform. Jangan langsung memilih pengembangan khusus jika fitur standar sudah cukup.
Sebagai contoh ilustratif, distributor peralatan industri mungkin membutuhkan katalog spesifikasi dan permintaan penawaran sebelum transaksi. Alurnya berbeda dari penjualan produk dengan harga tetap yang bisa langsung masuk keranjang.
4. Bagaimana Hubungan Pelanggan Akan Dikelola?
Pertimbangkan kebutuhan setelah transaksi pertama: apakah pelanggan perlu melakukan pemesanan ulang, mendapatkan dukungan, atau mengakses riwayat pembelian?
Akses terhadap informasi pelanggan di marketplace mengikuti kebijakan platform. Website sendiri memberikan ruang lebih luas untuk mengelola hubungan langsung, tetapi juga menambah tanggung jawab pengelolaan data dan layanan pelanggan. Referensi: Zoho Commerce.
Sebelum menambahkan fitur pelanggan, tentukan kegunaannya. Akun pelanggan, misalnya, baru bernilai jika membantu proses nyata seperti pemesanan ulang atau pelacakan pesanan.
5. Apakah Stok dan Pesanan Siap Dikelola?
Menambah kanal penjualan berarti menambah titik masuk pesanan. Jika proses di belakangnya belum tertata, tim dapat menghadapi stok berbeda antar-kanal, input berulang, atau pesanan yang terlambat diproses.
Sebelum menjalankan beberapa kanal, tentukan:
- Sistem yang menjadi acuan utama stok.
- Identitas produk atau SKU yang konsisten.
- Kapan stok dikurangi dan dikembalikan.
- Cara menangani pembatalan, retur, dan refund.
- Penanggung jawab ketika sinkronisasi gagal.
Integrasi perlu diperiksa per platform. Sebagai contoh, Shopify menyediakan koneksi ke marketplace tertentu melalui saluran atau aplikasi yang didukung; ketersediaan tersebut tidak berarti semua marketplace memiliki kemampuan integrasi yang sama. Referensi: Shopify Help Center.
Untuk perusahaan dengan beberapa gudang atau sistem ERP, evaluasi aliran data sebelum memilih solusi. Tampilan toko yang baik perlu didukung proses pesanan yang dapat ditelusuri.
6. Siapa yang Bertanggung Jawab atas Operasional?
Website e-commerce membutuhkan pengelolaan berkelanjutan. Sebelum membangun, pastikan ada pihak yang bertanggung jawab atas katalog, pembayaran, gangguan teknis, layanan pelanggan, dan evaluasi kinerja.
Tingkat tanggung jawab teknis berbeda menurut solusi yang digunakan. Platform berlangganan, sistem berbasis plugin, dan pengembangan khusus memiliki pembagian tugas serta kebutuhan pemeliharaan yang berbeda.
Mintalah kejelasan mengenai kepemilikan domain, akses admin, pencadangan, dukungan, dan prosedur pemindahan sistem. Hal ini membantu perusahaan memahami ketergantungan pada penyedia sejak awal.
7. Apakah Perlu Menggunakan Keduanya?
Marketplace dan website dapat digunakan bersama jika masing-masing memiliki peran yang jelas.
Marketplace dapat diuji untuk menjangkau permintaan yang sudah ada di platform. Website dapat difokuskan pada informasi produk yang lebih lengkap, kebutuhan pelanggan bisnis, atau pengalaman belanja khusus.
Namun, membuka keduanya sekaligus menambah pekerjaan. Mulailah dari kanal yang paling sesuai dengan kebutuhan saat ini, lalu tambahkan kanal berikutnya setelah proses katalog, stok, pesanan, dan layanan pelanggan berjalan konsisten.
Gunakan indikator yang membantu keputusan: kontribusi per pesanan, biaya mendapatkan pelanggan, tingkat pembelian ulang, kesalahan pesanan, dan waktu pemrosesan.
Jadi, Pilih Marketplace atau Website E-commerce?
Marketplace layak dipertimbangkan ketika bisnis ingin menguji produk melalui lingkungan belanja yang sudah tersedia. Website layak dievaluasi ketika perusahaan membutuhkan kendali lebih besar atas informasi, pengalaman pelanggan, dan alur pemesanan.
Keputusan akhirnya perlu didasarkan pada tiga hal: cara mendapatkan pelanggan, biaya total, dan kesiapan operasional. Pilih kanal yang manfaatnya dapat diukur dan mampu dikelola oleh tim.
Konsultasikan kebutuhan website e-commerce perusahaan Anda dengan Layana untuk memetakan alur pemesanan, kebutuhan integrasi, dan prioritas implementasi sebelum menentukan solusi.
