Modernisasi sistem BPR dapat dimulai dari aplikasi pendukung, integrasi, hak akses, dan pengelolaan dokumen selama kemampuan core banking yang dipertahankan masih sesuai kebutuhan. Keputusan mengganti sistem inti perlu didasarkan pada hasil pemeriksaan, termasuk dukungan vendor, kebutuhan pembukuan, keamanan, dan kelangsungan layanan.
Jika masalah utama adalah persetujuan yang tersebar di percakapan atau penginputan ulang data pengajuan, bank perlu menelusuri sumber masalahnya. Mengganti core banking belum tentu menghilangkan langkah manual di luar sistem. Sebaliknya, menambah aplikasi juga tidak menyelesaikan keterbatasan mendasar pada sistem inti.
Artikel ini membantu manajemen memilih pekerjaan yang layak dimulai sambil mempertahankan layanan bank. Contoh keputusan bersifat ilustratif. Kelayakan teknis dan kebutuhan regulasi harus dinilai berdasarkan kondisi BPR masing-masing.
Pisahkan Keluhan Pengguna Dari Penyebabnya
Mulailah dengan mencatat kejadian yang mengganggu pekerjaan: dokumen sulit ditemukan, data harus diketik ulang, laporan terlambat, atau akses pegawai lama belum dicabut. Jelaskan kapan kejadian muncul dan aplikasi mana yang terlibat.
Setelah itu, telusuri penyebabnya. Laporan terlambat dapat berasal dari data sumber yang belum lengkap, pertukaran berkas yang menunggu petugas, atau kemampuan pemrosesan aplikasi. Ketiga kondisi tersebut membutuhkan tindakan berbeda. Hindari langsung menetapkan teknologi baru sebelum penyebabnya cukup jelas.
Gunakan checklist kesiapan TI BPR untuk mengumpulkan bukti awal. Catat informasi yang belum diperiksa. Wawancara pengguna membantu menemukan masalah, tetapi tetap perlu dicocokkan dengan alur, konfigurasi, dan hasil sistem.
Tetapkan Apa Yang Harus Tetap Berjalan
Modernisasi menyentuh layanan yang sedang digunakan. Bank perlu mengetahui proses kritikal, jadwal operasional, ketergantungan vendor, dan periode yang sensitif terhadap perubahan. Penilaian ini membantu memilih urutan pekerjaan dan waktu peralihan.
Tentukan sumber pencatatan resmi serta batas aplikasi pendukung. Jika core banking tetap menjadi sumber pembukuan, aplikasi baru harus menghormati batas tersebut. Jangan membangun pencatatan paralel yang kemudian menghasilkan dua versi angka tanpa mekanisme rekonsiliasi.
Pasal 31 pada POJK 34 Tahun 2025 mengatur kemampuan aplikasi inti perbankan. Pemeriksaan kemampuan tersebut perlu menjadi bagian keputusan mempertahankan sistem, bukan dilewati karena proyek hanya diberi nama modernisasi.
Pilih Bentuk Modernisasi Sistem BPR Berdasarkan Temuan
Beberapa masalah dapat diselesaikan dengan konfigurasi atau pembenahan prosedur. Masalah lain memerlukan pengembangan modul, integrasi, peningkatan versi, atau penggantian sistem. Bandingkan pilihan berdasarkan dampak dan batas kemampuan yang ditemukan.
| Temuan Ilustratif | Pilihan Yang Perlu Dinilai | Hal Yang Harus Dipastikan |
|---|---|---|
| Pengajuan tersebar di banyak berkas | Aplikasi alur pengajuan | Persetujuan, versi, dan sumber data jelas |
| Penginputan berulang | Integrasi resmi | Izin vendor dan rekonsiliasi tersedia |
| Akses terlalu luas | Pembenahan otorisasi | Pembatasan berlaku pada jalur pemrosesan |
| Dokumen sulit ditelusuri | Pengelolaan dokumen terkontrol | Hak akses dan riwayat perubahan terjaga |
| Core banking tidak lagi didukung | Peningkatan atau penggantian | Risiko keberlanjutan dan migrasi dievaluasi |
Tabel ini merupakan pilihan penanganan, bukan diagnosis untuk bank tertentu. Solusi final memerlukan bukti dan penilaian pihak yang bertanggung jawab.
Mulai Dari Alur Persetujuan Yang Terukur
Aplikasi pendukung dapat menata tahapan kerja sebelum data diteruskan ke sistem inti. Contohnya, pengumpulan dokumen, pemeriksaan kelengkapan, pengembalian revisi, dan persetujuan. Masing-masing membutuhkan pemilik tugas serta status yang mudah dipahami.
Pilih satu alur yang memiliki masalah jelas dan volume pekerjaan yang dapat dipantau. Catat kondisi awal agar bank dapat menilai perubahan setelah implementasi. Jangan menjanjikan pengurangan waktu atau kesalahan sebelum pengukurannya tersedia.
Untuk menyusun spesifikasi, gunakan panduan pengembangan aplikasi BPR. Keberhasilan tahap awal perlu dibuktikan melalui penggunaan dan pengujian yang disepakati, bukan hanya jumlah fitur yang sudah dibuat pengembang.
Hubungkan Sistem Melalui Jalur Yang Disetujui
Integrasi dapat mengurangi langkah pemindahan data, tetapi tetap membutuhkan pemeriksaan sumber, format, status, dan hak akses. Libatkan pengelola core banking untuk memastikan antarmuka resmi serta batas pemakaiannya. Dokumentasi yang tidak tersedia merupakan ketergantungan yang harus dicatat.
Jika integrasi otomatis belum layak, bank dapat menilai pertukaran berkas terkontrol sebagai tahap peralihan. Tetapkan siapa menyiapkan, memeriksa, mengirim, serta merekonsiliasi hasil. Jelaskan pula risiko sisa dan rencana berikutnya.
Jangan menjadikan jalan sementara sebagai proses permanen tanpa peninjauan. Pembahasan tentang pengenal permintaan dan data ganda tersedia pada integrasi LOS dengan core banking BPR. Kontrol tersebut perlu dirancang sejak awal pekerjaan.
Rapikan Data Sebelum Menambah Dashboard
Dashboard dapat menampilkan data lebih mudah dibaca, tetapi tidak memperbaiki perbedaan definisi di sumbernya. Sebelum membuat laporan manajemen baru, sepakati arti status, tanggal, pengenal, serta sumber angka yang digunakan.
Sebagai contoh, jumlah pengajuan diterima dapat berbeda dari jumlah fasilitas yang sudah tercatat. Keduanya sah sebagai ukuran berbeda, tetapi harus diberi label yang jelas. Penggabungan tanpa definisi dapat membuat manajemen menafsirkan proses secara keliru.
Tentukan juga bagaimana koreksi data diteruskan dan kapan laporan diperbarui. Sertakan informasi waktu pembaruan agar pembaca memahami kesegarannya. Jika data belum lengkap, tampilkan batas tersebut secara terbuka alih-alih mengisi nilai perkiraan tanpa penjelasan.
Perkuat Akses Tanpa Memperluas Salinan Data
Aplikasi baru dapat menambah tempat penyimpanan dan jalur unduhan. Tinjau apakah data perlu disalin atau cukup dirujuk dari sistem pemiliknya. Setiap salinan membutuhkan pengelolaan akses, masa simpan, backup, dan penanganan ketika tidak lagi digunakan.
Tetapkan kewenangan berdasarkan peran, cabang, penugasan, dan tindakan yang diperbolehkan. Perubahan jabatan harus diikuti peninjauan akses. Pengujian perlu mencakup pengguna yang tidak berwenang membuka objek tertentu.
Gunakan panduan keamanan data nasabah BPR untuk membahas kebutuhan tersebut. Modernisasi yang memudahkan pekerjaan perlu sekaligus menjaga agar data hanya tersedia bagi pihak yang berhak, termasuk pada ekspor dan dukungan vendor.
Siapkan Pemulihan Sebelum Melakukan Peralihan
Sebelum aplikasi baru mengambil alih proses, tentukan cara memulihkan layanan bila terjadi kegagalan. Backup merupakan bahan pemulihan; bank juga membutuhkan prosedur, lingkungan, akses, serta pemeriksaan hasil. Uji pada lingkungan terpisah sesuai kewenangan.
Rencana kembali perlu mempertimbangkan transaksi atau perubahan yang terjadi setelah peralihan. Mengembalikan aplikasi lama tanpa merekonsiliasi data baru dapat menciptakan kehilangan informasi. Tentukan siapa yang memutuskan peralihan diteruskan atau dibatalkan dan bukti apa yang digunakan.
Pembahasan lebih terperinci tersedia pada backup dan disaster recovery BPR. Kebutuhan pemulihan sebaiknya masuk anggaran dan kriteria penerimaan, bukan baru dibahas ketika gangguan terjadi.
Kapan Penggantian Core Banking Perlu Dipertimbangkan?
Evaluasi penggantian ketika keterbatasan inti tidak dapat ditangani secara memadai melalui konfigurasi, peningkatan, atau integrasi yang diizinkan. Contohnya, dukungan vendor berhenti, kemampuan pembukuan tidak memenuhi kebutuhan, atau kelemahan mendasar tetap terbuka setelah opsi perbaikan diperiksa.
Keputusan ini membutuhkan kajian migrasi data, operasional, kontrak, biaya penggunaan, dan pengujian. Bandingkan kondisi sekarang dengan alternatif secara setara. Jangan hanya membandingkan biaya lisensi lama dengan biaya pembangunan awal sistem baru.
POJK 34 Tahun 2025 mengatur kebutuhan penyelenggaraan TI; nama dan usia aplikasi saja tidak menentukan kecukupannya. Untuk gambaran aturan, lihat panduan kewajiban TI BPR. Penilaian akhir perlu dilakukan terhadap kemampuan serta bukti aktual bank.
Susun Roadmap Dengan Keputusan Pada Setiap Tahap
Roadmap yang dapat dijalankan memuat masalah, keluaran, ketergantungan, pemilik, serta kondisi untuk melanjutkan. Contohnya, tahap integrasi baru dimulai setelah dokumentasi vendor diperiksa dan alur pengajuan disepakati. Durasi tidak boleh ditetapkan tanpa mempertimbangkan ketergantungan tersebut.
Pisahkan pekerjaan yang dapat dilakukan segera dari pekerjaan yang membutuhkan persetujuan atau perubahan kontrak. Periksa ulang manfaat dan risiko setelah tiap tahap. Jika bukti menunjukkan asumsi awal keliru, ubah rencana sebelum memperluas implementasi.
Mulai dengan assessment TI BPR bila pilihan penanganan masih diperdebatkan. Hasilnya sebaiknya menyediakan dasar keputusan, termasuk sistem yang layak dipertahankan dan bagian yang memang perlu diubah.
Membahas Modernisasi Bersama Layana.id
Layana.id dapat diajak membahas aplikasi pendukung dan integrasi melalui layanan custom development. Siapkan daftar proses bermasalah, gambaran sistem, batas vendor lama, serta layanan yang harus tetap berjalan.
Lingkup pembahasan perlu menghasilkan pilihan yang dapat dibandingkan, kemudian pekerjaan yang dapat diuji. Hindari meminta pembangunan semua modul sekaligus sebelum kebutuhan prioritas terlihat. Pengembangan bertahap tetap membutuhkan desain hubungan data dan pengawasan yang konsisten.
Diskusikan modernisasi sistem BPR bersama Layana.id untuk memetakan perubahan yang relevan. Core banking dapat dipertahankan ketika kemampuan serta risikonya memadai; jika hasil kajian menunjukkan sebaliknya, kebutuhan penggantiannya harus dibahas secara terbuka bersama pihak yang berwenang.
Aplikasi Finance Karya Layana
Aplikasi nasabah, alur pengajuan kredit, dan web admin untuk KB Bukopin Finance, BPR CMA, serta BPR MSA.
KB Bukopin Finance
Dari Simulasi Ke Pengajuan Pembiayaan
Aplikasi Android dan web admin untuk informasi produk, simulasi pembiayaan, serta pengumpulan pengajuan calon nasabah. Lingkup proyek mencakup perancangan integrasi e-KYC Privy.ID, skor kredit pihak ketiga CLIK, dan pengembangan skoring berbasis data internal.
BPR CMA
Alur Kredit Dalam Genggaman Tim
Aplikasi mobile dan web admin untuk pengajuan serta survei kredit. Cakupannya membantu marketing dan komite kredit mengelola pengecekan data, exposure, serta analisis jaminan. Pengajuan dan status pekerjaan menjadi bagian dari alur yang dapat ditelusuri tim.
MSA On Hand
Layanan Nasabah Dan Komunitas UMKM
Aplikasi BPR Madani Sejahtera Abadi untuk pengajuan kredit, pembukaan rekening dan deposito, pembayaran, serta forum komunitas. Lingkup proyek Layana juga mencakup web admin, pengelolaan pengajuan oleh marketing dan notaris, serta laporan operasional.
MSA on Hand tersedia di Google Play dengan PT. Layana Computindo Sentratama tercantum sebagai developer.
Contoh aplikasi pendukung ini dapat digunakan untuk membahas batas perubahan sebelum menyentuh sistem inti. Kelayakan mempertahankan core banking tetap harus diperiksa terhadap kemampuan, dukungan vendor, dan kebutuhan bank yang bersangkutan.
Bicarakan Aplikasi BPR Anda
Ceritakan proses yang masih manual, sistem yang digunakan, dan fitur yang ingin dibuat. Tim Layana dapat membantu membahas kebutuhan, batas integrasi, dan tahapan pengembangan.
Referensi
- POJK Nomor 34 Tahun 2025, terutama Pasal 14–18, 27, 31, dan 35–40.
- PADK Nomor 43/PADK.03/2025, ketentuan pelaksanaan penyelenggaraan TI BPR dan BPR Syariah.




