Metaverse hadir menawarkan kapitalisme jenis baru di era ini. Setiap proyek metaverse dari perusahaan mana pun akan menghadirkan para pemilik tanah virtual yang akan berkuasa dan mempunyai keuntungan lebih besar dibandingkan para pemain lain. Hebatnya, secara sadar kita justru memilih bergabung dengan kapitalisme jenis baru tersebut. Kenapa ini bisa terjadi, dan akan seperti apa konsep kapitalisme berbasis blockchain tersebut? Mari kita bahas.

Industri Game Merajalela

Salah satu industri yang sangat diuntungkan dengan hadirnya metaverse adalah industry game. Atau bahkan bisa dikatakan, asal usul metaverse sebenarnya memang berasal dari industri game tersebut. Sebut saja metaverse SandBox yang konsepnya sangat mirip dengan game Roblox. Bedanya, di roblox kita hanya bermain tanpa bisa melakukan transaksi yang membawa keuntungan di dunia nyata. Kalaupun ada pihak yang diuntungkan dari game roblox adalah pihak roblox sendiri. Kita para pemain hanya menikmati kesenangan.

Jauh sebelum NFT menjadi tren karena menjanjikan keunikan dan kelangkaan dari masing-masing NF, industry game sudah memulainya lebih awal. Perusahaan game mendapat uang dari berbagai cara, dan salah satunya adalah berjualan item game. Item tersebut bisa berupa skin untuk karakter, senjata, atau bahkan loot box yang kita tidak tahu apa isinya sebelum membelinya. Semakin langka sebuah item game, maka semakin mahal pula harganya. Sebuah item dengan harga mahal dan langka, tentu saja akan membantu pemain beraksi dalam permainan tersebut.

Lantas NFT merajalela. Industri game yang sudah mengenal konsep jualan item rare, tentu saja akan memanfaatkan tren nft. Mereka bisa membangun game serupa dengan yang sudah populer tetapi berbasis teknologi blockchain. Pada game berbasis blockchain tersebut, setiap karakter, setiap skin, setiap senjata, bahkan setiap skill bisa saja berupa NFT dan bisa diperjualbelikan.

Setiap item tersebut bisa diperjualbelikan di marketplace NFT, dan perusahaan game akan mendapat untung besar dari setiap penjualan item, pun dari royalti pada setiap penjualan ulang item tersebut dari pemilik lama ke pemilik baru. Contoh sederhananya adalah, ada sebuah game MMORPG Fantasy berbasis blockchain. Lantas, ada sebuah senjata paling ampuh berupa pedang yang bisa mengalahkan banyak musuh dalam sekali tebas. Nah, pedang tersebut tidak bisa didapatkan hanya dari bermain dan menyelesaikan misi, melainkan perusahaan game tersebut menjualnya di marketplace NFT mereka. Katakanlah harganya sekian Ethereum atau mungkin jika dirupiahkan senilai satu juta rupiah. Item pedang tersebut hanya ada dua di semesta game tersebut. Artinya, akan ada dua pemain super karena memiliki pedang tersebut.

Ketika item tersebut diluncurkan di marketplace, dan ada dua orang yang membelinya, pihak perusahaan mendapat untung dari pembelian itu. Lantas karena selama permainan terbukti pedang tersebut sangat powerfull, maka permintaan akan pedang tersebut bakal meningkat. Imbasnya, harga pedang bisa naik puluhan kali lipat. Pemiliknya bisa menjual pedang tersebut dan mendapatkan keuntungan besar dari selisih jual dan beli. Pihak perusahaan, tentu mendapat untung dari royalti penjualan kembali pedang tersebut. Ketika pedang berpindah tangan, maka pemain dengan pedang tersebut akan menjadi tak terkalahkan.

Itu baru satu item game. Bayangkan jika perusahaan game juga menjual skill super, skin super, atau item lainnya dalam bentuk NFT. Para pemain akan rela membelinya dengan mahal di marketplace.

Kelak hal tersebut akan menjadi penghasilan utama bagi perusahaan game, dan tidak akan banyak orang yang protes. Saat ini mungkin kita bisa mengejek teman kita yang rela menghabiskan jutaan rupiah demi membeli item game tertentu, tetapi ketika kelak semua item game adalah NFT, kita tidak bisa melakukan lagi. Orang membeli item game bukan sekadar karena akan mempermudah permainan, tetapi juga karena yang mereka beli adalah aset investasi bernama NFT.

Munculnya Tuan Tanah Berskala Global

Apabila industry game akan semakin merajalela dan mendapatkan perhatian dari semua penggiat NFT, maka yang lebih luar biasa lagi dari konsep metaverse adalah hadirnya tuan tanah baru dengan skala global.

Siapa si tuan tanah ini? Apakah mereka yang membeli tanah virtual di platform seperti Decentraland dan SandBox? Bisa dibilang begitu, tetapi yang lebih tepat untuk disebut sebagai tuan tanah utama adalah para pengembang game tersebut. Kenapa? Karena semua keuntungan masuk ke perusahaan.

Sebuah perusahaan menciptakan dunia baru yang kosong dengan banyak lahan untuk dibeli. Mereka membangunnya dari ketiadaan. Memanfaatkan teknologi blockchain, mereka menciptakan semesta meta yang siap menarik investor di seluruh dunia untuk berinvestasi di dalamnya.

Para investor ini akan membuat akun di metaverse sebuah perusahaan, menghubungkan dompet kripto mereka ke sana, menyetorkan uang kripto untuk membeli karakter agar bisa bermain, lantas menyetorkan uang lebih banyak lagi untuk membeli sebidang tanah virtual. Siapa pun pembeli pertama dari semua lahan di sebuah metaverse, maka mereka akan memiliki power dan uang lebih banyak daripada yang datang sebelumnya. Mereka akan membangun properti yang juga dibeli dari perusahaan metaverse tersebut, lantas menyewakannya ke pemain-pemain lain yang ingin membangun bisnis di metaverse tersebut.

Mereka, para pemain pertama yang membeli tanah, adalah tuan tanah kecil. Tuan tanah sesungguhnya adalah mereka yang mengembangkan metaverse tersebut dari ketiadaan. Setiap transaksi yang ada di metaverse tersebut, siapa pun yang untung besar dari metaverse tersebut, maka perusahaan juga akan menerima keuntungan yang tidak sedikit.

Kita, yang tidak berkesempatan membeli tanah virtual pertama karena berbagai alasan, harus rela menjadi lapisan kapitalisme baru tersebut. Kita hanya bisa memainkan peran kecil dan mencari keuntungan-keuntungan yang jumlahnya tidak seberapa dibandingkan para pemilik tanah berskala global tersebut.

Masalahnya adalah, kenapa kita mau terjerat kapitalisme jenis baru tersebut? Bukankah kita bisa mengabaikannya dan tidak terlibat pada rangkaian kapitalisme berbasis blockchain tersebut? Jawabannya ada pada poin terakhir pada artikel ini.

Dunia Baru untuk Dikuasai

Kita ingin menguasai sebuah dunia baru yang menawarkan banyak hal. Itulah alasan kenapa kita tergiur untuk bergabung dengan kapitalisme blockchain tersebut. Ada sebuah dunia baru di mana banyak kemungkinan bisa terjadi. Kita ingin mencoba melakukan sesuatu di dunia tersebut, menjadi bagian dari dunia tersebut, dan berharap bisa mendapatkan sesuatu dari sana. Sesuatu itu sudah pasti berupa keuntungan materi. Kita, yang bergabung setelah para tuan tanah berkuasa, hanya akan menjadi pion kecil bagi mereka. Kita akan memainkan karakter yang bekerja di sebuah perusahaan yang berdiri di sebuah metaverse. Kita akan menjadi pebisnis kecil yang menyewa properti milik tuan tanah. Ya, kita hanya akan bermain di area itu apabila modal yang kita miliki tidak terlalu banyak.

Pada dunia meta seperti Decentraland, kita akan mencoba melakukan apa yang sudah pernah dilakukan di dunia nyata. Kita membangun property, kita menyewakan property, kita membangun kantor perusahaan, kita mengadakan konser, dan bahkan kita bisa bermain kasino di sana. Intinya adalah, semua potensi menguntungkan yang sudah pernah ada di dunia nyata, segalanya direplika di dunia baru yang siap untuk menerima apa pun. Dengan begitu, muncul peluang besar untuk meraup keuntungan dari semua bisnis tersebut.

***

Metaverse memang akan menghadirkan kapitalisme jenis baru. Sebuah kapitalisme berbasis blockchain yang akan diterima siapa saja dengan mudah. Masalahnya adalah, apakah kita akan ikut menjadi bagian dari kapitalisme tersebut? Pada bagian mana kita akan mengambil peran? Apakah peran yang sama dengan peran kita saat ini pada kapitalisme di dunia nyata? Atau kita ingin melakukan sesuatu dan menjadi pemilik tanah?

Tentu saja yang paling menguntungkan adalah apabila kita bisa menjadi pemilik sebuah dunia meta tersebut. Sekali lagi, tidak ada yang lebih diuntungkan dari kapitalisme blockchain selain pemilik sebuah metaverse. Maka dari itu, kenapa kita tidak membuat konsep sebuah metaverse, lantas membangunnya dari ketiadaan? Permasalahannya adalah, membangun dunia meta tidak sesederhana itu, ada sebuah teknologi modern yang tidak sembarang orang menguasainya. Nah, tertarik untuk mengembangkan sebuah metaverse tetapi memiliki keterbatasan teknologi? Layana.ID adalah solusinya.

Layana.ID adalah Perusahaan Konsultan IT profesional berbasis di Yogyakarta yang akan membantumu membuat Aplikasi Android dan IOS / Mobile App. Selain itu, kami juga  membantu mendigitalisasi bisnis, mulai dari digital planning, UX Research, UI Desain, Pembuatan Logo brand, Pembuatan website, Pengembangan aplikasi mobile member, Hingga Promosi bisnis secara digital (SEO, Google ADS). 

Konsultasikan ide bisnismu dan dapatkan solusi digital terbaik. Tim IT Kami akan membuat idemu menjadi nyata.

 
Tags : metaverse kapitalisme kapitalisme blockchain industry metaverse nft konsep nft

Related Articles

HTTP VS HTTPS

Apa itu HTTP dan HTTPS ? Hypertext Transfer Protocol (HTTP) adalah protokol yang mengatur ko...

Museum Hits di Jogja Yang Menarik & Instragam-able

Yogyakarta memang kota yang memiliki sejumlah tempat indah dan menarik untuk dikunjungi. Oleh karena...

Tips Aman Menggunakan Zoom Agar Terhindar Dari Zoomboombing

Dalam masa pandemi seperti saat ini aplikasi Zoom menjadi salah satu aplikasi yang banyak digunakan ...