Selain menawarkan kemegahan konsep, kecanggihan teknologi, keamanan data pengguna, serta potensi keuntungan besar, segala hal tentang Metaverse juga memiliki sisi negatif. Teknologi yang mendasari metaverse adalah blockchain. Sebuah konsep penyimpanan terdesentralisasi dan serba rahasia sehingga data yang tersimpan di sana tidak mungkin diketahui siapa pun selain pemiliknya. Sayangnya dengan segala kerahasiaan itu, bentuk kejahatan yang terjadi di dalamnya juga akan mustahil untuk dilacak. Artinya, selain mengamankan data pengguna, blockchain juga mengamankan data segala bentuk kejahatan.

Dua Sisi Desentralisasi

Sebuah transaksi mata uang kripto tidak akan bisa dilacak selain mata uang tersebut dikonversikan menjadi mata uang negara tertentu dan pemiliknya menarik ke rekening bank lokal. Selama mata uang kripto hanya disimpan di dompet kripto, maka hanya si pemilik dompet itu yang tahu seberapa banyak uang yang dimilikinya, dan dari mana saja uang itu berasal, pun ke mana saja uangnya ditransaksikan.

Dengan begitu, segala bentuk scam yang merugikan banyak orang dan menguntungkan pihak tertentu, sudah pasti tidak akan pernah diketahui. Dan hal tersebut sudah terjadi berulang kali semenjak tren blockchain menggeliat di seluruh dunia.

Konsep desentralisasi dari blockchain memberi keuntungan dan kerugian yang seimbang terkait keamanan penggunanya. Semua transaksi yang berlangsung di dalamnya terenkripsi menjadi kode-kode rahasia yang nyaris mustahil dibongkar. Kita tidak akan pernah tahu siapa orang yang mengunggah sebuah karya menjadi NFT terkecuali si pengunggah mengumumkannya secara langsung. Jika seseorang tidak membongkar dirinya sendiri, apa pun yang terjadi di dalam jaringan blockchain akan tetap rahasia. Bukti nyatanya adalah Bitcoin. Tidak ada yang tahu sampai sekarang siapa sosok di balik munculnya Bitcoin. Hanya muncul nama Satoshi Nakamoto sebagai orang di balik Bitcoin, tetapi siapa itu Satoshi Nakamoto di dunia nyata tidak pernah ada yang tahu.

Lebih lanjut, saat ini mungkin memang belum marak media sosial yang dibangun di atas jaringan blockchain. Akan tetapi di masa mendatang, ketika blockchain sudah diaplikasikan ke segala bentuk penggunaan internet, maka jenis kejahatan yang muncul bisa saja sama banyaknya dengan manfaat yang ada. Bayangkan saja, pornografi bisa merajalela di platform berbasis blockchain, tersimpan menjadi NFT, dan kita tidak akan pernah tahu siapa yang mengunggahnya. Benar, memang sebegitu aman dan rahasianya sistem blockchain sehingga siapa pun bisa melakukan apa pun tanpa diketahui.

Atau lebih parah lagi, bisa saja muncul marketplace berbasis blockchain yang memperjualbelikan obat-obatan terlarang. Transaksi dilakukan dengan mata uang kripto yang tidak bisa dilacak jejak transaksinya, lantas pembeli mengirimkan alamat pengiriman yang terenkripsi menjadi kode rahasia sehingga hanya penjual yang dapat melihatnya, lantas penjual mengirimkan paket pembelian tersebut dengan sangat rahasia. Semuanya bisa dilakukan dengan aman dan tidak bisa terlacak oleh siapa pun.

Tampak seperti transaksi di deep web yang masih misterius itu, bukan? Ya. Saat semuanya sudah berbasis blockchain, maka tidak ada lagi batas antara deep web dan web permukaan pada umumnya. Blockchain meleburkan semua itu sehingga semua orang bisa melakukan transaksi apa saja tanpa dilacak.

Bahaya Project Scam

Baiklah, barangkali bahaya yang kita bahas di poin sebelumnya tampak terlalu dilebih-lebihkan dan masih belum terjadi saat ini. Tetapi besar kemungkinan hal tersebut akan terjadi. Lantas, jika membahas bahaya dari metaverse yang saat ini sudah terjadi, maka jawabannya adalah project scam.

Beberapa waktu lalu ketika dunia dilanda serial netflix berjudul Squid Game, tak lama kemudian muncul sebuah proyek token kripto yang menggunakan judul dari serial tersebut. Ya, proyek itu bernama Squid Game. Tergiur dengan tren serial Netflix yang populer, maka banyak orang menanti-nanti launchingnya token Squid Game di bursa.

Pihak pencipta proyek yang mengetahui antusias tersebut lantas melakukan pre-sale dari token Squid Game, atau dalam dunia mata uang kripto lebih sering disebut dengan istilah Whitelisting. Banyak orang yang membeli presale token Squid Game, sehingga harganya melambung tinggi pada detik-detik pertama tokennya melantai di bursa.

Beberapa menit kemudian harganya semakin naik, sehingga semakin banyak orang di seluruh dunia yang membelinya. Lantas, tidak sampai satu jam setelah menyentuh harga tertinggi, harga token tersebut anjlok parah sampai ke angka 0. Apa yang terjadi? Pencipta proyek menarik semua uang yang telah dimiliki mereka dan membawa kabur tak bersisa.

Fenomena ini disebut Rug Pull, dan sebenarnya secara konsep transaksi, tidak ada yang salah sama sekali dalam aktivitas ini. Seseorang membeli dalam jumlah banyak sehingga harganya naik, dan ketika harganya berada di puncak, si pemilik menjual semuanya dalam sekejap sehingga harganya anjlok.

Rug Pull juga marak terjadi pada proyek NFT. Ketika ada sebuah proyek yang hype dan dipromosikan secara massif, memiliki website dengan target pembangunan ekosistem yang luar biasa di masa depan, juga menawarkan banyak keuntungan dari setiap NFT mereka, maka akan banyak orang yang antri di whitelist proyek tersebut. Biasanya, sebuah proyek NFT yang mengembangkan ekosistem besar, atau dalam kasus ini tampak mengembangkan ekosistem besar, akan mengembangkan mata uang kripto mereka juga. Artinya, selain untung dari penjualan NFT di marketplace, mereka juga akan untung dengan transaksi di bursa mata uang kripto.

Ketika proyek mereka hype dan banyak yang antri di whitelist NFT maupun mata uang kripto mereka, ketika NFT dilaunching di marketplace, dan mata uang kripto mereka melantai di bursa, maka keduanya akan mengalami kenaikan harga yang sangat tinggi. Ketika itu sudah terjadi, maka tinggal diambil saja semua uang yang sudah didapat dari banyak orang di seluruh dunia. Ya. Hanya sesederhana itu melakukan scam dan mereka tidak bisa dilacak sama sekali.

Anehnya adalah, hal tersebut menjadi scam karena memang ada niat dari si pelaku dan ketika korbannya banyak. Kondisi yang sama bisa terjadi pada project NFT lain tetapi tidak dianggap scam. Saat seseorang tertarik dengan project NFT dan membelinya karena ekosistem yang dikembangkan tampak menjanjikan, mendadak suatu saat project mereka terkendala sesuatu dan mangkrak. Maka, NFT mereka juga tidak akan memiliki nilai lebih.

Lihat? Keduanya sama-sama dibeli, sama-sama menjanjikan ekosistem luar biasa, sama-sama mangkrak, dan sama-sama merugikan banyak orang. Bedanya, yang satu dianggap scam karena memang niat dari pelaku dan terjadi dengan singkat, sementara project satunya lagi tidak diniatkan menjadi scam, dan ternyata mengalami kendala di tengah-tengah proses.

Sangat susah mengetahui project mana yang scam dan yang aman. Kita hanya akan tahu sebuah project scam atau tidak setelah scam itu terjadi dan menelan banyak korban. Parahnya, kita tidak bisa menuntut siapa pun apabila scam terjadi.

Bagaimana Mengatasinya?

Kita tidak bisa mengatasinya! Ya, tidak ada apa pun yang bisa kita lakukan untuk menghentikan praktik kejahatan yang bisa terjadi di metaverse. Namun, kita bisa mencegah agar kejahatan semacam itu tidak pernah terjadi kepada kita.

Hal paling penting agar kita tidak menjadi korban adalah dengan memahami baik-baik dunia baru yang akan kita hadapi tersebut. Blockchain, mata uang kripto, NFT, pun Metaverse secara keseluruhan adalah konsep yang rumit dan membutuhkan pemahaman serius sebelum kita terjun ke sana. Kita harus mengukur risiko yang akan kita dapat jika terjun ke metaverse. Jangan asal ikut-ikutan trend an mengabaikan segala risiko, karena hal tersebut bisa berakhir fatal.

Sebagian besar orang yang terkena scam proyek NFT atau token kripto dikarenakan fear of missing out dan harus selalu ikut tren. Emosi bermain sangat penting dalam hal ini. Rasa tidak ingin ketinggalan kereta dan hasrat untuk mendapat keuntungan banyak dari lonjakan harga saat proyek tersebut diluncurkan menguasai diri kita. Maka dari itu, pihak tertentu yang ingin melakukan scam pasti akan membuat proyek yang tampak menguntungkan dan sebisa mungkin proyek mereka hype di mana-mana. Begitu proyek mereka mendapat sorotan, maka akan ada banyak uang yang disedot ke rekening kripto mereka.

Maka dari itu, hal paling bijaksana untuk kita lakukan adalah menghindari proyek hype yang belum jelas prospeknya. Proyek yang tampak jelas prospeknya saja masih berpotensi gagal, apalagi yang belum jelas. Makanya, daripada bertaruh pada proyek yang belum launching, ada baiknya kita fokus ke proyek besar yang sudah berjalan seperti SandBox, Decentraland, atau yang lainnya. Sama halnya dengan mata uang kripto, akan lebih masuk akal jika kita membeli BNB, ETH, atau BTC daripada membeli koin-koin baru yang entah digunakan untuk transaksi apa.

***

Blockchain akan menjadi masa depan teknologi penyimpanan data, dan menjadi landasan untuk banyak proyek di masa mendatang. Sayangnya, segala keuntungan yang ditawarkan juga membawa kerugian sama besarnya. Nah, kita sebagai pengguna, ada baiknya untuk menambah literasi terkait dunia baru yang belum sepenuhnya kita jamah tersebut. Tren blockchain dan segala yang di bangun di atasnya naik tajam beberapa tahun terakhir, namun sayangnya tren itu tidak diikuti dengan naiknya literasi dan pemahaman terhadap segala bentuk blockchain, NFT, kripto, dan metaverse. Maka dari itu, sebelum kita menghadapi bahaya nyata dari teknologi masa depan ini, ada baiknya kita memperkaya diri dengan literasinya.

 
Tags : bahaya metaverse bahaya blockchain bahaya bitcoin bahaya nft bahaya mata uang kripto

Related Articles

Bingung Mau Pilih Yang Mana, Yuk Cek Rekam Jejak Caleg Di 5 Situs Ini

Pada pelaksanaan Pemilu 2019, pemilih akan dihadapkan pada lima kertas suara. Kelima kertas suara it...

6 Tips Jadi Pemilih Cerdas dan Aktif. Pemilih Pemula Wajib Tahu!

Pemilu 2019 akan diadakan serentak pada tanggal 17 April 2019, artinya pemilu tinggal menghitung har...

Tips Mudik Aman, Nyaman dan Menyenangkan

Lebaran adalah momen satu tahun sekali yang dapat dimanfaatkan untuk berkumpul bersama kerabat terci...